Rupiah melemah tajam terhadap dolar AS dan mencatat posisi terendah secara historis di kisaran Rp 16.985–16.997 per dolar AS. Penurunan ini terjadi meskipun dolar AS tidak menunjukkan kekuatan signifikan di pasar global, sehingga faktor domestik menjadi penyebab utama tekanan terhadap nilai tukar. Pasar merespons sentimen politik dan ketidakpastian ekonomi dengan melakukan penyesuaian portofolio, sehingga rupiah menghadapi tekanan jual yang cukup besar.
Kekhawatiran Investor Terhadap Independensi Bank Indonesia
Investor global bereaksi negatif setelah Presiden Prabowo Subianto mencalonkan keponakannya, Thomas Djiwandono, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran tentang campur tangan politik dalam kebijakan moneter, yang seharusnya dijalankan secara independen oleh Bank Indonesia.
Persepsi bahwa peran Bank Indonesia selama ini, termasuk dukungan terhadap program pemerintah seperti burden sharing fiskal, dapat memengaruhi independensi bank sentral semakin memperkuat kekhawatiran investor. Kepercayaan terhadap kebijakan moneter Indonesia menjadi terguncang.
baca juga : Mobil Menabrak Kerumunan di Jerman, 20 Orang Terluka Parah
Respons Pasar & Penjualan Obligasi
Penjualan agresif obligasi Indonesia oleh investor asing turut menekan nilai rupiah. Surat utang negara menjadi salah satu instrumen yang paling terdampak karena investor melakukan diversifikasi keluar dari pasar Indonesia akibat kekhawatiran risiko politik.
Selain itu, imbal hasil obligasi 10 tahun naik signifikan, menunjukkan ketidakpastian pasar yang meningkat. Investor menuntut kompensasi lebih tinggi untuk risiko yang melekat pada aset Indonesia.
Faktor Ekonomi Domestik yang Memperparah Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah tidak hanya berasal dari faktor politik, tetapi juga kondisi ekonomi domestik. Defisit anggaran Indonesia hampir mencapai batas maksimal 3% dari PDB, menimbulkan ketidakpastian terhadap stabilitas fiskal.
Ketidakpastian kebijakan fiskal, ditambah risiko politik, membuat pasar lebih berhati-hati. Investor mengantisipasi potensi pengaruh politik terhadap keputusan ekonomi dan moneter, sehingga tekanan terhadap rupiah tetap tinggi.
baca juga : Cuaca Ekstrem Tewaskan 800.000 Orang dalam 30 Tahun Terakhir
Upaya Pemerintah Meredam Kekhawatiran Pasar
Pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa pencalonan Deputi Gubernur baru tidak akan mengurangi independensi Bank Indonesia.
Meski ada klarifikasi resmi, skeptisisme pasar masih tinggi. Investor asing tetap berhati-hati, mengingat sejarah campur tangan politik dalam ekonomi Indonesia yang pernah menimbulkan risiko nyata.
Kesimpulan & Prospek Rupiah ke Depan
Rupiah melemah tajam dalam beberapa hari terakhir karena kombinasi faktor politik dan ekonomi domestik. Langkah politik yang menimbulkan kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia menjadi faktor utama, sementara defisit anggaran yang tinggi dan penjualan obligasi asing memperparah tekanan pasar.
Ke depan, rupiah kemungkinan tetap volatil. Investor akan memantau kebijakan pemerintah dan keputusan Bank Indonesia untuk menilai kestabilan ekonomi nasional. Strategi komunikasi yang jelas dan langkah proaktif dari otoritas moneter akan menjadi kunci untuk meredam kekhawatiran pasar dan memperkuat kepercayaan investor.