Banjir bandang Sulawesi Utara menghantam Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) pada Senin dini hari, 5 Januari 2026. Hujan deras monsoon selama beberapa hari memicu sungai meluap, membawa arus deras bercampur lumpur, batu, dan kayu ke permukiman warga. Bencana ini mengakibatkan kerusakan parah pada rumah dan fasilitas umum, serta memaksa ratusan penduduk meninggalkan rumah mereka. Kondisi darurat diumumkan selama 14 hari untuk mempercepat proses evakuasi dan bantuan.
Dampak Korban dan Kerusakan Rumah
Setidaknya 16 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di wilayah Sitaro. Jumlah korban terus dikonfirmasi oleh BNPB dan media lokal. Selain itu, lebih dari 140 rumah rusak atau hancur, dan puluhan warga mengalami luka-luka, beberapa di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Manado. Ratusan penduduk kini menempati tempat penampungan sementara seperti sekolah dan rumah ibadah untuk menghindari risiko lebih lanjut.
baca juga : Lirik Lagu Bunga Maaf – The Lantis: Kenali Makna yang Menggetarkan Hati
Evakuasi dan Penanganan Darurat
Tim SAR, aparat polisi, dan militer telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban, meskipun akses ke beberapa desa terhambat akibat kerusakan jalan dan gangguan komunikasi. Pemerintah daerah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari, memungkinkan koordinasi lebih cepat dan penyediaan bantuan darurat bagi warga terdampak.
Ancaman Hujan Lanjutan
Masyarakat diimbau tetap waspada karena hujan lanjutan bisa memicu banjir tambahan dan longsor. Para warga di daerah rawan bencana disarankan menghindari lokasi sungai atau lereng curam, serta tetap berada di tempat aman sampai kondisi cuaca membaik.
baca juga : Tabrakan Jet di Arizona, Pilot Tewas dan 3 Korban Luka-lukah
Penyebab dan Faktor Banjir Bandang
Banjir bandang ini terjadi karena kombinasi curah hujan ekstrem monsoon dan topografi wilayah Sitaro yang berbukit-bukit. Aliran air yang deras dari pegunungan membawa lumpur dan material berat yang menghancurkan rumah dan infrastruktur lokal. Bencana hidrometeorologi semacam ini sering muncul di Indonesia selama musim hujan intens, menekankan pentingnya mitigasi risiko dan sistem peringatan dini.
Upaya Pemulihan dan Bantuan
Pemerintah provinsi Sulawesi Utara bersama BNPB dan lembaga sosial telah menyalurkan bantuan berupa makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan. Tim darurat fokus pada evakuasi korban, memperbaiki jalur komunikasi, dan memulihkan akses jalan. Dukungan logistik terus ditingkatkan agar warga terdampak dapat kembali ke kehidupan normal secepat mungkin.
Kesimpulan: Bencana Ini Jadi Peringatan Penting
Banjir bandang Sulawesi Utara menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat akan bahaya hujan ekstrem dan longsor di wilayah rawan. Penanganan cepat, mitigasi risiko, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan di masa depan.